Sabtu, 28 Maret 2009

Belajar bisnis dari permainan Kucing.

Belajar bisnis dari permainan Kucing.

Sewaktu saya masih kecil, saya suka bermain dengan kucing. Bagi saya kucing adalah binatang yang lucu berbulu indah ... menggemaskan. Terlepas anda suka dengan binatang yang satu ini atau tidak, saya hanya ingin menunjukkan bahwa kita bisa belajar, mengambil hikmah terhadap kehidupan kucing.

Ketika kucing masih kecil sering kali terlibat perkelahian seperti cakar-mencakar, gigit-menggigit, tetapi kalau anda mau memperhatikan secara seksama ternyata perkelahian ini cuma permainan. Tidak hanya terhadap saudara sebayanya tapi juga dengan induknya ... suara gaduh sering kita dengar baik pagi, siang maupun petang hari.

Ketika sang induk mendapat binatang buruan, anak-anaknya tidak serta merta memakannya, tetapi makanan ini dibuat permainan (mengasah ketrampilan)

Bagi saya sewaktu masih kecil ini tontonan yang mengasikkan ... bahkan saya ikut larut juga dalam permainan, saya ambil lidi dan pucuknya saya beri tali ... bisa sebagai alat penggoda bagi kucing-kucing ini.

Bagi seekor kucing ini bukan sekedar bermain bergulat, berlari tapi lebih pada cara belajar mempertahankan hidup pada generasi penerus. Mereka secara insting selalu berlatih berlari kejar-mengejar, bergulat ... disitulah cara mereka melatih ketrampilan sebagai bagian dari mempertahankan kehidupan.

Bermainnya kucing-kucing ini tidak lebih seperti saya ketika bermain menaiki sepeda. Bagi saya waktu sepertinya habis untuk bermain-main naik sepeda. Saya bahkan tidak peduli sudah berapa kali terjatuh, sudah sekian kali berdarah, dan juga sekian kali peringatan-peringatan dari orang tua untuk selalu hati-hati.

Saya tidak peduli sudah puluhan kali jatuh, yang saya ingat saya selalu bangun dan bermain lagi dan lagi hingga akhirnya saya dapat naik sepeda dengan lancar dan hasilnya saya tidak pernah lupa akan ketrampilan naik sepeda ini baik yang pakai kayuh maupun yang bermesin.

Perlu anda ketahui bahwa jika saya harus belajar dulu dengan membaca tehnik-tehnik bermain sepeda yang benar mungkin saya terlambat dengan ketrampilan teman-teman saya. Dan ini merupakan bagian dalam mempertahan kehidupan saya setiap hari berangkat bekerja menggunakan sepeda motor. (Saudara saya selalu menyarankan agar saya beli mobil, tapi bagi saya itu belum saatnya ... yang terpenting saat ini saya harus mampu menambah aset produktif sebagai bagian dari belajar ketrampilan bisnis saya. Pada minggu lalu saya memperingatkan bahwa saat ini kelas ekonomi menengah sangat menggunung ... pada masa yang akan datang akan tiba saatnya kelas ekonomi menengah akan menyusut diantaranya akan menjadi orang kaya karena selalu melatih ketrampilan, keahlian dalam mengelola keuangan, dan sebagian akan menjadi miskin karena mereka terlena dengan situasi nyaman yang dia rasakan saat ini sehingga tidak melatih ketrampilan maupun keahliannya bahkan pada anak-anaknya)

Dari cerita yang saya sampaikan diatas anda dapat mengambil hikmah bahwa ketika anda ingin bisnis jangan menunggu harus belajar hingga pintar/pandai sekali. Yang terpenting anda harus berlatih ketrampilan bisnis ini ... jangan pedulikan tentang jatuh bangun dalam menjalankan sebuah bisnis, karena ini adalah jalan yang benar menuju kesuksesan, berapapun anda jatuh yang sangat penting anda harus segera bangun. Jika harus jatuh 30 kali maka anda segera bangun untuk yang ke 31 kali.

Kucing melatih ketrampilanya sejak masih kecil hingga menjadi pemburu yang handal.

Orang tua melatih saya naik sepeda juga sejak kecil sehingga sangat trampil.

Semestinya anda juga pernah diperkenalkan hidup bisnis sejak kecil.

Jika tidak ...

Segera berlatih sendiri sejak dini.

Jangan menunggu sampai anda sangat pandai, karena anda tidak akan mendapatkan ketrampilan tanpa praktek secara langsung. Jika anda banyak membaca cara bisnis, mengikuti seminar adalah sebagai mesin pendorong semangat yang sangat pas guna mendukung ketrampilan bisnis anda hingga meningkat menjadi seorang ahli.

Salam Sukses Luar Biasa.

ENDRO SUNOTO, SP

Penyuluh Pertanian.

Sabtu, 21 Maret 2009

Vokus akan membawa hasil

Sewaktu masih di Sekolah Dasar saya dan teman-teman melakukan pengujian pemakaian alat kaca pembesar untuk memvokuskan sinar matahari. Mungkin anda juga pernah praktek seperti ini sewaktu masih di Sekolah Dasar. Sinar matahari akan terpusat pada satu titik ... bila titik itu kita tempatkan pada tangan kita maka akan terasa panas sekali, dan jika di tempatkan pada bahan kering mudah terbakar seperti kertas atau daun kering maka akan terbakar.

Sinar matahari menimbulkan panas tapi jika sinar matahari kita fokuskan maka tidak sekedar panas yang kita peroleh tapi bisa membakar. Contoh yang sering dipakai adalah kompor sinar matahari, yaitu dengan cara memantulkan sinar matahari yang tervokus pada alat memasak ... jadi deh memasak makanan.

Demikian juga di dunia usaha ... jika anda vokus (memusatkan) pikiran, perhatian dan tindakan pada bidang tertentu maka akan lebih cepat tercapainya. Hanya saja kita sering justru terpola untuk vokus pada masalah (hampir sebagian besar) sehingga fikiran menjadi bingung, pusing, pening alih-alih melupakannya.

Banyak media memberitakan ada seorang ibu bunuh diri bersama anak-anak nya lantaran punya masalah, ada yang gantung diri dan lain-lain ... yang intinya fikiran ini sudah tidak bisa berfikir jernih, kenapa begitu ... ya karena mereka bervokus pada masalah, pada problem.

Vokus yang saya maksudkan di sini adalah vokus pada pemecahan masalah. Kalau boleh saya tekankan disini bahwa hidup adalah memecahkan masalah.

Orang-orang yang sukses selalu dilingkupi masalah dan setiap masalah terpecahkan maka disitulah hasil.

Banyak masalah jika kita perhatikan pada sebuah usaha.
Tempat usaha ?
Jenis usaha ?
Orang-orang yang cocok dalam tim usaha ?
Peralatan dan administrasi ?
Distribusi ?
Harga bahan baku, harga produk ?
Sasaran konsumen ?
Tehnik pemasaran ?
Pokoknya seabreg ...

Nah jika anda vokus pada masalah maka kemungkinan besar akan mundur teratur, tetapi jika anda vokus pada pemecahan masalah ... jika masalah dapat teratasi maka hasil yang diperoleh. (pemecahan masalah = hasil)

Sekarang bagaimana vokus pada usaha diversifikasi?
Sebetulnya usaha diversifikasi ini jenis usaha yang cocok untuk kita kelas menengah, dimana usaha ini mampu memperkecil tingkat resiko. Orang kaya menjuluki usaha diversifikasi ini sebagai usaha yang tidak mau kalah.
Nah disini kita perlu vokus pada bidang usaha prioritas hingga berhasil ... setelah berhasil maka kita bisa membiayai usaha lainnya. Bila pola ini berjalan maka akan berkembang menjadi pengusaha kaya.

Sangat berbeda jenis usaha orang kaya ... jika mereka menemukan jenis usaha yang sangat cocok, menyenangkan, menghasilkan maka sepenuh hati vokus disana, menyempurnakan dan meninggalkan usaha-usaha lain yang potensinya kecil. Mereka menyebutnya dengan usaha untuk menang.

(nasehat finansial antara orang miskin, kelas menengah, dan orang kaya sangat berbeda. Indonesia termasuk negara yang kelas menengahnya lebih besar di banding dengan orang kaya dan orang miskin, semakin maju sebuah negara akan terjadi pergeseran yaitu kelas menengah semakin berkurang, orang miskin bertambah banyak dan orang kaya juga bertambah banyak yang disebut dengan istilah : jurang antara kemiskinan dan orang kaya makin melebar)

Pesan moral dari tulisan saya ini adalah, vokuskan pada usaha untuk berhasil dengan cara memecahkan masalah. Masalah adalah tantangan.
Bagaimana ... berani menerima tantangan.!

Salam Sukses
ENDRO SUNOTO, SP.
Penyuluh Pertanian