Jumat, 24 April 2009

Empat langkah negosiasi dalam membeli tanah.

Bulan Maret 2009 kemarin saya dapat telpon dari putri kakak saya di Pati yang isinya menanyakan bagaimana cara menawar jual beli tanah. Hal ini mengingatkan saya pada pembelian dua bidang tanah disamping rumah dinas yang waktu itu saya tempati tahun 1990 dan yang ada di belakang rumah saya pada tahun 2006. Sebelum saya memutuskan untuk membeli, saya pastikan dulu seberapa pentingnya penjual membutuhkan kecepatan menerima uang. Jika penjualnya mendesak berarti ini sangat penting sekali sehingga menginginkan tanah cepat laku.

Langkah pertama : saya cari tahu dulu apakah pemilik tanah terlibat hutang yang melilit, atau keluarga ada yang sakit, mungkin butuh biaya lain seperti mau beli kendaraan, untuk persiapan pesta pengantin atau dia menjual tanah karena mencari keuntungan.

Langkah kedua : saya cari informasi mengenahi status tanah, jangan sampai bermasalah di kemudian hari.

Langkah ketiga : saya berusaha mencari tahu harga maksimal dari nilai tanah itu. Nilai tanah menjadi tinggi jika di lingkungan padat penduduk terutama di pinggir jalan. Alih-alih malah kita yang sangat membutuhkan.

Langkah ke empat : saya katakan sebetulnya saya punya uang dan tidak ada rencana beli tanah tapi akan saya pertimbangkan jika harganya cocok sebab saya punya rencana lain.

Empat langkah inilah yang saya sampaikan pada Putri Kakak saya dan hasilnya adalah sebagai berikut:

Penjual tanah sedang punya masalah piutang dengan Bank dan Surat rumah tempat tinggal sebagai agunan (ini point penting karena hampir setiap orang tidak menginginkan kehilangan tempat tinggal).

Status tanah adalah hak waris sehingga pembayaran harus di tunda dulu hingga statusnya jelas ( point ini terjadi kesepakatan bersama antara penjual dan pembeli ).

Putri Kakak saya memperoleh beberapa masukan dari kerabat dan tetangga jika harga tanah itu nilai maksimalnya adalah Rp 33 juta karena beberapa pertimbangan. Penjual menawarkan dengan harga Rp 40 juta.

Dikatakan Putri Kakak saya kalau punya uang jumlahnya hanya Rp 25 juta saja dan ini akan di gunakan untuk memperbaiki rumah (karena memang punya rencana semula untuk memperbaiki rumah, tapi jika tidak anda boleh katakan kalau uang anda mau untuk usaha wiraswasta), dan tidak memaksa untuk membeli (pura-pura tidak tertarik).

Penjual pikir-pikir minta ditambahi tapi pembeli minta coba ditawarkan pada orang lain karena memang semula tidak ada rencana untuk membeli tanah. ( jadi dalam tawar-menawar seolah-olah tidak tertarik walaupun sangat ingin untuk membeli, tapi perlu diingat bahwa tanah tersebut tidak ada orang lain yang sedang menawar).

Setelah jeda dua hari maka penjual datang lagi dengan keputusan setuju dengan harga penawaran pertama dengan uang muka Rp 5 juta.

Nah dari kisah ini dapat diambil hikmahnya bahwa harga tanah bisa jatuh jika penjual sedang dalam masalah finansial.

Pembeli dengan cara negosiasi pura-pura tidak butuh akan mendapatkan harga yang murah dari perkiraan harga standart ( harga penawaran Rp 40 juta, standart nilai tanah Rp 33 juta di beli dengan harga Rp 25 juta dengan uang muka Rp 5 juta )

Jika anda berorientasi pada bisnis maka pastikan bahwa anda sudah mendapatkan keuntungan saat membeli bukan menunggu saat harga tanah naik. ( Rp 33 juta – Rp 25 juta = Rp 8 juta ), jadi harga saat beli nilai tanah sudah memberi keuntungan Rp 8 juta.

Demikian tulisan saya kali ini semoga dapat diambil hikmahnya bagi anda yang ingin membeli sebidang tanah baik untuk bisnis atau untuk tempat tinggal anda, keputusan ada di tangan anda.

Salam Sukses Luar Biasa

Endro Sunoto, SP

Penyuluh Pertanian

Sabtu, 04 April 2009

Menjalani hari-hari tanpa tahu semestinya suratan Takdir.

Suatu hari ada preman yang mengaku tentang hari-hari hidupnya yang telah dilalui :
“Ya ini sudah takdir saya, manusia seperti saya hanya bisa pasrah”.

Saya agak terkejut dengan ucapannya, ya dia sekarang memang memulai hidup baru dengan belajar agama yang saya rasa itu jalan yang baik. Keterkejutan saya justru bukan karena dia menjalani hidup beragama yang lebih baik tapi pada pengakuannya bahwa dia seolah-olah tau akan garis hidupnya, tau akan rahasia takdirnya.

Mungkinkah dia memang tau dengan ucapannya itu (sekedar menjalani suratan takdir), jadi preman, mabuk-mabukan, main perempuan, bikin onar. Sangat hebat... dia seorang preman jalanan tau akan takdirnya.

Jika memang begitu berarti dia melakukan semuanya itu tidak bersalah, tidak berdosa... karena bukan keinginan dia, bukan kehendak dia, tapi memenuhi takdir dia. Ya silahkan kalau itu jalan pikirannya... tapi tidak dengan pikiran saya. Saya tidak tahu apa takdir saya kecuali jika saya tidak makan maka saya akan lapar, jika tidak minum maka bersiaplah kehausan, jika jantung saya berhendi berarti saya mati.

Saya tidak tahu akan takdir saya maka bagi saya setiap hari dipenuhi dengan saat-saat yang menentukan untuk masa depan saya, mulai pagi hari apakah saya mau bangun pagi atau bangun siang, mau mandi pagi atau mendengarkan berita pagi, mulai aktivitas atau mau malas. Semua itu saya ikut andil dalam menentukan langkah saya, ya ... karena saya tidak tau akan takdir saya, maka apapun yang saya anggap positif dan saya sanggup, akan saya lakukan.

Teman saya namanya Agus Maksum adalah guru agama di SMP dengan menyandang gelar Sarjana Agama Islam, sekarang melanjutkan kuliah S2. Sewaktu masih kecil pernah lari dari rumah karena merasa hidupnya tidak seperti teman-temannya. Rumahnya kecil sempit, setiap hari tidak pernah tahu bagaimana wajah ayahnya (orang tuanya telah bercerai ), setiap pagi sebelum pergi sekolah SD harus keliling keluar masuk gang menjajakan jajan buatan ibunya, habis atau tidak habis segera pulang jika jam sudah mulai mendekati jam masuk sekolah. Sepulang sekolah, kembali keluar masuk gang melanjutkan jual jajan dan sore hari sekolah Madrasah.

Setiap hari itulah aktivitasnya, sungguh membosankan manakala teman-teman sebaya saatnya bermain, bersenang-senang (karena memang masanya) sedangkan ia tidak bisa menikmati hidup seperti temannya... maka ia ambil keputusan untuk lari dari rumah. Dalam kekalutan tidak tahu dimana akan tinggal, dimana yang akan dituju maka ia putuskan untuk berhenti di Masjid, disitulah semua uneg-uneg kegalauan hati di tumpahkan dalam otaknya untuk berpikir keras. Setelah otaknya lelah maka gejolak hati jadi meredam, menyadari akan keadaan sebenarnya, kasihan dengan ibunya dan kedua adiknya maka diputuskan untuk pulang kembali. Sepertinya tempat ibadah adalah salah satu tempat bengkelnya hati.

Ia putuskan bahwa “saya memang berbeda dengan orang lain, tapi saya tidak boleh menyerah demi untuk masa depan saya”. Ia jalani hari-hari yang membosankan dengan penuh kesabaran tanpa rasa peduli apapun yang dipikirkan orang lain. Semua gurunya memahami ketika suatu saat harus terlambat bayar sekolah, bahkan ada guru yang ikut ambil bagian dalam memotivasi agar jangan putus asa.

Ketika harus pergi ke Kota Semarang untuk melanjutkan Kuliah, ia berpesan pada ibu dan adiknya agar tidak mengharapkan untuk sering pulang (Pemalang), sebab untuk pulang butuh biaya dan untuk kuliah juga butuh biaya sedangkan semua biaya harus ditanggung sendiri.

Kesulitan pertama adalah tempat tinggal, kos pertamanya pada bulan pertama harus menerima dengan lapang dada untuk diusir karena tidak sanggup membayar. Ia pindah kos di pinggiran kota yang agak jauh dan lebih murah, sepanjang dalam perjalanan ia jalan kaki sambil putar otak bagaimana bisa memperoleh uang untuk bayar kuliah dan kos.

Dalam perjalanan pulang kuliah matanya tertuju pada seseorang yang sedang aktifitas di gundukan rosok/rongsok (barang bekas), orang tersebut ia dekati dan ia tanya sedang apa, bagaimana mengerjakannya, berapa gajinya, harus berhubungan dengan siapa. Setelah cocok dalam hatinya maka saat itu langsung bekerja sebagai tenaga sortir rosok/rongsong hingga sore baru pulang. Hari-harinya di Semarang ia lalui sebagai mahasiswa yang ia biayai sendiri dari bekerja sebagai pensortir rosok. Pulang kerumah orang tua sangat jarang sekali mungkin 6 bulan sekali belum tentu. Setelah beberapa bulan ia nyambi sebagai loper koran... sampai lulus Sarjana.

Beliau orang yang ulet, patut untuk direnungkan kisahnya kenapa ... karena beliua tidak tau tentang takdir hidupnya maka ... berusaha keras adalah jalan keluarnya. Sekarang hidupnya bahagia punya istri dan tiga anak. Istri sedang kuliah S1 sekarang sambil mengajar di MI, dan beliau sambil Kuliah S2.

Di lingkungan masyarakat beliau menjadi orang terpandang, saya selaku Ketua Takmir Masjid Al Hikmah sering mengundang beliau untuk ceramah saat hari raya, dalam organisasi keuangan BMT yang kami miliki beliau kami percaya sebagai Sekretaris, dalam organisasi sosial sebagai Ketua Paguyuban Pangruktiloyo (Kematian) kebetulan saya sebagai sekretaris.

Sahabat semua yang saya cintai, hikmah yang dapat dipetik dalam kisah ini adalah bahwa, saya maupun anda tidak tau secara persis akan suratan takdir kita, yang kita ketahui adalah berusaha keras, dan selalu belajar ... tindakan kita memiliki andil besar dalam penentuan masa depan kita sendiri. Sebagai catatan bahwa kita perlu investasi yang dahsyat berupa waktu, tenaga, fikiran dan hati.


Salam Sukses Luar Biasa
ENDRO SUNOTO, SP
Penyuluh Pertanian.